Ani Sekarningsih
muka
tentang saya
galeri
catatan
buku tamu
kontak
Dengan blog ini saya mencatat banyak hal. Mulai dari hal yang sederhana hingga yang rumit dan bikin sedih. Dunia ini memang tidak mungkin bisa menyenangkan semuanya. Tak apa, karena senang dan sedih yang silih berganti itulah dunia ini terus berputar dan berputar.... 6 Sept.05... Hidup adalah rangkaian pertanyaan yang adakalanya menjaring tawa renyah, namun juga di satu saat memeras air mata. Namun ketika kamera dalam genggaman tanganku, ternyata aku semakin terpesona dunia ini sesungguhnya indah dan memukau. Sayangnya, aku sering terjebak kesibukan rutinitas, dan aku tak mempunyai kesempatan yang cukup luang untuk photo hunting dengan teman-teman yang mempunyai hobi yang sama. Barangkali inilah kendalaku yang membuatku sering sedih juga, melewati kesempatan-kesempatan berkumpul dengan teman-teman sehobi atau kehilangan momen menangkap keindahan alam yang selalu tidak sama.
 
 
 

Takdir masa depan bangsa
24 November 2006 11:33:52 wib
Begitu indah kupaku lanskap Gorontalo dalam kameraku. Namun ketika aku kembali berada di tengah kumpulan manusia aku tak melihat lagi indahnya akan manusia-manusia di manapun aku menengokkan kepala.

Banyak orang mengajukan tanya:"Bagaimanakah bentuk negara kita kelak, Bu?" Nanar aku melihat ke dalam mata si penanya. Lalu kupalingkan mataku pada langit biru kelam dimana awan gemawan terbang leluasa dengan damainya. Pertanyaan itu menusukkan sembilu yang pedih. Aku membayangkan takdir anak cucuku.

Tuhan telah menyusun takdir bagi alam semesta ini. Planet-planet bergulir menurut sistem yang tertib, matahari masih terbit di Timur dan lenggelam di Barat. Musim masih begulir sesuai waktunya. Bumi yang kita pijak masih bisa ditanami padi, dan gerumbulan ternak masih bisa merumput, serta segala jenis tetumbuhan masih bisa tumbuh subur. Airpun mengalir menghidupkan mahluk-mahluk laut, sungai dan danau. Bumi ini masih menyimpan kekayaan lain: minyak, mas, berlian, gas, uranium. Maka takdir-takdir yang telah disiapkan Tuhan adalah jelas merupakan perbekalan anak manusia untuk menyusun takdir masa depan bagi dirinya.

"Mau lihat masa depan bangsa ini? Cermati kondisi tanah air hari ini. Maka itulah masa depan bangsa ini. AMBURADUL. Mengapa? Karena hampir semua orang tak tahu merajut takdirnya. Budaya kita hidup selalu dalam mimpi masa silam. Mari kita tengok keluhan orang banyak. Semasa pemerintahan Bung Karno orang banyak mengeluh: "Alangkah enaknya hidup dizaman "normal" (maksudnya zaman penjajahan Belanda). Kemudian saat Suharto memerintah, orangpun memakinya: "Enakan ketika zaman pemerintahan Sukarno" Lalu kini kita berada pada zaman SBY, orang pun masih berkeluh kesah: Wahai, ternyata enakan dizaman Suharto ya daripada zaman SBY."jawabku kering.

Si penanya tercenung.

"Kawan, kita lupa zaman silam hanyalah kenangan yang tak pernah akan kita singgahi kembali. Masa depan adalah tujuan langkah kita bersama. Tetapi budaya yang tertanam tak membiasakan kita untuk hidup dalam masa kini, detik dan jam saat ini. Kita tak terbiasa merencanakan pola takdir masa depan diri sendiri, apalagi masa depan kelompok yang nota bene adalah masa depan takdir bangsa dan negara ini."

Kuambil kameraku, dan aku merasa lebih tentram merekam keindahan takdir-takdir yang telah diciptakanNya.

Rangkaian pertanyaan
06 September 2005 18:59:28 wib
Hidup adalah rangkaian pertanyaan yang adakalanya menjaring tawa renyah, namun juga di satu saat memeras air mata. Namun ketika kamera dalam genggaman tanganku, ternyata aku semakin terpesona dunia ini sesungguhnya indah dan memukau.
Sayangnya, aku sering terjebak kesibukan rutinitas, dan aku tak mempunyai kesempatan yang cukup luang untuk photo hunting dengan teman-teman yang mempunyai hobi yang sama. Barangkali inilah kendalaku yang membuatku sering sedih juga, melewati kesempatan-kesempatan berkumpul dengan teman-teman sehobi atau kehilangan momen menangkap keindahan alam yang selalu tidak sama.


 
My Blog
 
Copyright ©2002-2008 Fotografer.Net